[3. 28 OKTOBER 2020] MELON PAHIT
Maryam adalah penyuka buah. Buah apapun dia suka, baik itu manis maupun asam. Bahkan Maryam lebih suka buah daripada nasi. Hari ini buah-buahan sudah habis, jadi saya harus membelinya. Sayang tukang sayur langganan tutup, jadi saya harus mencari warung terdekat lainnya.
Warung itu tenyata menjual buah melon. Saya teringat kalau anak-anak sudah lama tidak makan melon, lalu saya juga membeli buah nanas untuk mengejus.
Setibanya di rumah, Maryam dan Prisha menyambut dengan semangat. Prisha tak sabar ingin dibukakan melon. Maryam terlihat lebih tenang menunggu.
PSSSSS
Alangkah kagetnya saya, saat pisau ditusukkan ada suara gas yang keluar dari dalam melon. Sebuah pertanda tak baik. Mata saya bergantian menatap wajah anak-anak yang menunggu. Maryam malah tertawa karena menurutnya itu lucu, “buahnya kentut”. Dalam hati saya khawatir kalau mereka akan kecewa karena buah ini tak bisa dimakan.
“Kayaknya melonnya kurang bagus, karena keluar gas.” kata saya.
Mereka terdiam, belum paham apa yang terjadi.
Lalu saya mulai iris melonnya, Prisha sudah mulai mendongakkan kepala karena tak sabar. “Mama cobain dulu ya.” saya mulai mengiris melon, penampilannya masih wajar, Lalu saya mengiris sebagian kecil.
Rasanya pahit.
“Maaf ya Maryam, Prisha, melon ini sudah tidak bagus buat dimakan. Rasanya pahit.”
Wajah Maryam sedikit berubah, tapi tidak sedrastis adiknya yang langsung menangis karena kacewa.
Yang menarik, Maryam langsung ‘menangani’ adiknya,
“Dek, melonnya udah nggak bagus, nggak bisa dimakan.”
Prisha masih menangis.
“Dek, itu ada nanas. Itu kan juga enak dek.” Maryam menunjuk nanas yang ada di meja dapur. Saya baru teringat hal itu.
“Oh iya, nanasnya kita taburi gula, jadi manis deh. Mau?”
Prisha masih menangis. Saya mulai merapikan melonnya dan memotong nanas. Maryam ingin menaburkan gula.
Karena tangis Prisha belum berhenti, jadi saya menawarkan untuk memangkunya. Kalau dia mau, berarti amarahnya sudah mereda, dan Prisha ternyata mau. Saat itu saya tanyai apakah Prisha kecewa karena tidak jadi makan melon, dia mengangguk.
Sementara Maryam sudah siap menyantap nanasnya. “Dek, mau nanas? Ini lezat loh dek.” katanya sambil menusukkan garpu. Maryam lalu melahap nanas itu sepotong demi sepotong. Prisha memperhatikan walau masih sesenggukan.
Setelah itu, maryam membawa wadah nanas itu ke ruang tengah, “ayo dek, kita ke dalam.”
Prisha menurut. Saya bisa tenang kembali memasak.
Selesai memasak, saya masuk ke ruang tengah dan mendapati Prisha sudah tenang dan asyik bermain bersama Maryam. Isi di wadah nanas sudah ludes tak bersisa.
Comments
Post a Comment