[10. 4 November] AYO MA, KITA KE PERPUSTAKAAN
Hari Selasa kemarin, Maryam mengambil buku ke perpustakaan. Sehari lebih awal dari jadwal seharusnya karena Maryam sudah tak sabar ingin membaca bukunya.
Prisha tentu saja ingin ikut. Maryam dan Prisha ingin ke perpustakaan pakai sepeda. Sebenarnya jarak dari rumah ke sekolah tak terlalu jauh dan kami juga terbiasa berjalan kaki ke sekolah, tapi bersepeda punya tantangan tersendiri karena perlu memperhatikan kondisi jalan dan sekitar. Bagaimanapun, mereka berdua ngotot tetap ingin bersepeda.
Setelah melewati aneka drama sendal kebalik, topi jatuh, sandal lepas, nggak kuat nanjak, takut menurun, akhirnya sampai juga kami ke sekolah. Sekolah selama pandemi ini memang sangat lengang. Maryam sudah hapal jalan menuju perpustakaan. Sepertinya, dari seluruh tempat di SD, ruangan inilah yang paing familiar selain tambang panjat favoritnya
Begitu masuk, kami disambut oleh kak Tri dan kak Ami dengan senyum manis keduanya. Maryam melirik malu-malu. Prisha yang watak aslinya lebih terbuka dan murah senyum daripada Maryam, seringkali jadi ikutan malu-malu seperti tetehnya.
Beliau berdua sebenarnya sudah tak asing bagi Maryam. Kak Ami sering Maryam temui ketika main ke SD saat beliau menjadi KPK atau saat POTB dan berpapasan di luar gedung. Kak Ami memang senang menyapa anak-anak dengan sapaannya yang bersemangat. Sementara Kak Tri juga teman mamanya, Maryam sangat familiar karena kak Tri lah yang mengambil gambar di kelas setiap hari, senyum beliau yang tulus dan hangat membuat anak-anak nyaman saat dipotret, dan nyaman dengan keberadaannya saat dipotret secara candid.
Maryam dan Prisha memilih-milih buku. Kak Ami dengan cekatan menemani mereka berdua memilih buku, sementara saya masih berbicara dengan kak Tri. Begitu obrolan kami usai, saya melihat Kak Ami tengah membacakan buku dan mereka berdua menyimak. Tak mau mengganggu, saya potret saja dari belakang.
Kami berada di perpustakaan sekitar satu setengah jam. Kak Ami merekomendasikan beberapa buku yang menarik dan bagus untuk dibaca anak-anak seusia Maryam dan Prisha. Mereka melirik-lirik malu-malu, akhirnya dipilihlah buku berjudul Krauk! dan Woli, selain buku little pony dan buku monyet. Sebagai pilihan untuk program MotyB , Maryam memilih buku Tom si Kucing.
Membacakan Buku Tom si Kucing
Sesampainya di rumah dan membersihkan diri, Maryam langsung membuka paket bukunya dan minta dibacakan buku.
Menurut saya, buku anak karangan penulis barat "jaman dulu" punya ciri khas, yakni adanya sosok orang dewasa yang kurang bijaksana. Tokoh seperti ini juga muncul dalam buku karangan Beatrix Potter dan sosok itu adalah si Ibu kucing.
Karena Maryam masih dalam tahap meniru, jadi beberapa kisahnya saya sunting agar lebih bisa diterima.
Buku TOm si Kucing bercerita tentang si Tom yang lincah dan senang bermain. Suatu hari karena teman-teman ibunya akan datang minum teh, Tom dan kakak-kakaknya diminta untuk berpakaian rapi. Tapi si Ibu menyuruh mereka main di kebun agar tak mengganggunya memasak, dengan syarat tambahan : bajunya tidak boleh kotor.
Setelah selesai membacakan cerita, saya bertanya, bagaimana menurutnya cerita Tom? Maryam biasanya cukup ekspresif saat dibacakan cerita, apakah itu lucu, seram, atau sedih. Tapi untuk buku Tom, dia tak banyak berkomentar.
Dari sedikit komentarnya adalah, "Tom tidak nyaman disuruh pakai baju." saya bertanya, "kira-kira kenapa Tom merasa tidak nyaman?" sambil tersenyum dia jawab, "Mungkin karena dia kucing. Kucing kan memang tidak pakai baju."
"Jadi menurut Maryam bagaimana sebaiknya?"
"Ya , Tom bilang ke ibunya kalau bajunya tidak nyaman."
"Hmm.. iya betul juga ya."
Kami merapikan buku kembali, lalu Maryam minta dibacakan buku yang lain.
Setelah memvbacakan buku dan mendengar respons Maryam, saya berpikir, sungguh berbeda kultur saat ini dengan kultur keluarga kucing ala Beatrix Potter tadi.
Bagi Maryam yang hidup di iklim demokratis, saat dia merasa tidak nyaman, dia akan berkata kepada ibunya kalau dia nggak nyaman, tapi untuk keluarga si Tom, hal itu tak akan terjadi karena si Ibu bukanlah ibu yang bijaksana, atau lebih tepatnya, kultur saat itu tidak memberi ruang bagi anak untuk berpendapat, sehingga mereka hanya menuruti meski itu membuat mereka harus terseok-seok dan akhirnya malah kacau.
Jadi, apabila Tom mengikuti saran Maryam, besar kemungkinan dia malah akan dihukum oleh ibunya dan dipaksa lebih keras lagi untuk memakai baju. haha.
Comments
Post a Comment